Sabtu, 08 November 2014

ADMIRAL_SMA PLUS (RESENSI BUKU)



Kisah Meraih Mimpi Besar dalam Sekolah Berasrama

Oleh:  Misdianto, S.Pd
Guru SMA Negeri Plus Propinsi Riau



J udul Buku                 :  Admiral: Generasi, Perjuangan, dan Keajaiban
Penulis                                    :  Admiral
Pemerhati Aksara       :  Mash & Deni
Desain Sampul            :  Pram’s        
Tata Letak                   :  Nur
Tahun Terbit               :  Februari 2012
Cetakan                       :  Pertama
Tebal Buku                  :  vi + 248 hlm.
Ukuran Buku               : 13×19 cm
Penerbit                       : Leutikaprio
Kota Terbit                  : Yogyakarta
ISBN                            : 978-602-225-315-0
Harga                          : @ Rp 50.000,-


M
enulis merupakan aktivitas yang dapat bernilai positif dalam menuangkan ide-ide cemerlang ke dalam wujud rangkaian kata-kata menjadi bahasa untuk disajikan dan dicerna pada alam pikiran pembaca. Perihal kegiatan tersebut, memang bisa dikatakan, jarang-jarangnya pada taraf anak sekolahan terutama para siswa-siswi SMA sekarang ini untuk getol menulis apalagi meluncurkan sebuah buku bacaan. Adalah “Admiral”, sebuah judul buku dari kumpulan cerita yang dialami dan ditulis oleh para siswa-siswi sebuah sekolah terfavorit di Propinsi Riau, dialah yang bernama SMAN Plus Propinsi. Boleh diacungkan jempol yang luar biasa untuk mereka karena telah berani berkarya pada peluncuran buku perdana mereka. Ini perlu dikembangkan dan didukung sepenuhnya oleh kita bersama. Buku ini diluncurkan bertepatan pada hajatan perpisahan kelas XII  pada tanggal April 2012 di gedung aula baru sekolah ini, yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, yakni perguruan tinggi.
            Nuansa kenangan manis pahit telah tercatat di buku ini. Mereka memulai ceritanya dari impian bisa masuk di kampus sekolah ini dan ketika sudah diterima hingga selesai studi. Nah, disinilah bermain sebenar-benarnya kisah itu yang penuh warna lika-liku suka duka selama tiga tahun. Mau tak mau memang menjadi keseharian mereka menapaki kehidupan sekolah berasrama (bording school) yang sangat diklaim senantiasa menegangkan bendera peraturan kedisiplinan. Sekolah bak penjara bagi mereka, namun disitu pulalah malah banyak pengalaman hidup untuk pendewasaan diri yang sangat berharga dan tak didapati di sekolah lainnya.  
            Admiral (Academy Miracle of Twelfth), adalah nama dari generasi pelajar angkatan kedua belas SMA Negeri Plus Propinsi Riau. Admiral bukan hanya sekadar nama tetapi juga doa untuk para anggotanya agar dapat terus tegar menghadapi rintangan, seperti Laksamana Hang Tuah dalam Hikayat Melayu yang selalu memikul semua ujian dan cobaan yang datang silih berganti.
            Admiral resmi menjadi sebuah generasi pada 5 Desember 2009. Sejak saat itulah Admiral kemudian menjalani semua kegiatan  di sekolah dan asrama dengan penuh suka dan duka dalam satu ikatan generasi yang kokoh. Sejatinya Admiral terdiri dari 98 anggota yang punya potensi berprestasi luar biasa. Tapi karena satu hal yang tak dapat dielakkan, admiral lantas harus melepas seorang anggotanya dari ‘komunitas’ ini.
            Hakikatnya, Admiral adalah sekelompok remaja yang merasakan puncak kebahagiaan, kesulitan, kekecewaan, kesedihan, kelapangan, dan kebersamaan selama lebih kurang tiga tahun berada di lingkungan yang penuh warna dan juga makna. Kumpulan pengalaman yang terkemas dalam kisah-kisah dalam buku ini adalah suatu bentuk kecintaan admiral untuk sekolah, teman-teman, terutama almamater yang ditinggalkan.
            Admiral, sebuah buku kategori true stories ini menceritakan sebuah generasi fenomenal yang tak kenal lelah menggapai apa yang dipercaya bisa mereka lakukan. Tanggal 11 Juli 2009 adalah awal dari semua yang telah terjadi di isi cerita dalam buku ini. Saat dinyatakan diterima dan baru merasakan sekolah berasrama, semua merasa asing. Pada sekolah baru mereka, pada orang-orang dan suasana, yang benar-benar telah berubah. Mereka sadari, mereka tidak lagi di bawah kendali langsung orang tua. Bagi yang berasal dari kabupaten yang jaraknya nun ratusan kilometer jauh di sana, situasi hari itu sangat menakutkan, sungguh aneh. Puluhan siswa baru sejak pagi sekali telah menginjakkan kakinya di depan asrama, memperhatikan dengan saksama asrama kebanggaan sekolah idaman ini. Mereka bangga. Berhasil melewati serangkaian tes yang wajib dilaksanakan sebagai calon siswa baru. Para orang tua yang menunggu detik-detik perpisahan dengan anaknya barangkali juga sangat bangga, walau hati kecilnya sedih karena harus berpisah dengan anaknya yang menginjak dewasa. 
            Di sekolah ini, semua siswa memang wajib tinggal di asrama. Mematuhi segala aturan ketat yang telah diterapkan, dan pastinya dituntut untuk serba mandiri. Karena sebagaimana dipahami bahwasanya Riau sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, berimtaq, dan berkepribadian unggul demi daerah dan penggerak kemajuannya. Semua seolah jadi beban berat mereka hari itu. Menjadi siswa SMAN Plus Propinsi Riau adalah sebuah cobaan dan sekaligus tantangan. Mereka harus buktikan bahwa mereka memang berhak dan pantas berada di sekolah ini. 
            Pada kakak-kakak senior mereka, walau rasa segan bercampur aduk dengan sedikit rasa takut, mereka punya tekad untuk dapat terus melanjutkan prestasi-prestasi yang pernah ditorehkan. Dengan semangat membara di relung hati yang paling dalam, mereka ikrarkan bahwa juang kebersamaan meraih tiap keajaiban pada tiap langkah mereka itu pasti akan muncul seiring berjalannya waktu, yang akan mengantarkan mereka semua menjadi lebih baik, dalam naungan 12 admiral. Admiral, sebuah nama yang telah banyak mengajarkan tentang apa arti dari kekeluargaan. Selanjutnya, admiral mampu memotivasi diri untuk terus berkembang. Kemudian, admiral, selama tiga tahun menemani dalam suka duka. Dan, akhirnya sanggup meneteskan air mata di kala datang suatu hal yang dinamakan perpisahan.
            Tiga puluh sembilan judul karangan siswa-siswa SMAN Plus Propinsi Riau disajikan dalam buku ini. Setelah membaca buku ini, maka persepsinya bahwa betapa hebatnya siswa-siswi  sekolah ini dalam merangkai kata-kata menjadi bahasa. Bahasanya pun tak tanggung-tanggung dalam menalar dan melogikakan sesuatu hal. Penuh dengan metafor-metafor berbahasa. Alangkah kayanya nilai estetika tulisan mereka. Kemudian, juga alur kisah-kisah mereka ditampilkan dengan gaya bahasa santai dan enak untuk baca, tidak begitu serius. Namun, ada satu tulisan dalam buku ini yang tidak diketahui siapa penulis sebenarnya padahal yang lainnya sudah diketahui pengarang aslinya. 
            Tidak ada salahnya Anda mencoba untuk memiliki buku ini sebagai acuan referensi. Banyak yang dapat kita ketahui terhadap jalan pikiran, ide atau gagasan para siswa yang tak terpantau dari hati nurani mereka yang terpendam. Kita dapat belajar dan mengetahui kehidupan mereka di luar teori-teori di kelas. Jadi, kita mulai membuka mata untuk mencoba memahami dan dekat dengan mereka. Marilah kita baca dengan saksama goresan-goresan tinta emas dari generasi masa depan Riau ini dalam  buku karya mereka sendiri. Semoga mimpi-mimpi besar (big of dreams) mereka semua tercapai. Setelah menyelesaikan studi di bangku pendidikan yang lebih tinggi lagi di seantero wilayah. Dan ilmu yang sudah diperoleh nantinya berguna untuk membangun Riau. Amin! ***
                                                                                                    





















































Minggu, 02 November 2014

Risalah Islami



Menuntut Ilmu


Oleh :   MISDIANTO, S.Pd
Guru SMA Negeri Plus Provinsi Riau


            “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, waktunya adalah dari buaian ibu (bayi), sampai masuk liang kubur” (Hadits Rasullulah SAW).

            Dari bunyi hadits di atas, sangat jelas sekali perintahnya, bahwa dalam Islam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib. Artinya adalah, jika dikerjakan dan dilaksanakan kita akan mendapat pahala dan jika diabaikan atau tidak dilaksanakan kita akan mendapat dosa. Jadi, kita sebagai seorang Muslim, marilah memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyegerakan menuntut ilmu yang benar. Benar dalam artian, sesuai dengan Alquran dan Hadits Shahih dari Rasullulah SAW agar kita memperoleh petunjuk dan kebenaran. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang muslim yang beruntung kelak jika kita mati. Hal ini dipertegas oleh sebuah kata pepatah bahwa kesempatan baik itu jarang sekali yang datang dua kali.
            Waktu untuk menuntut ilmu ialah sejak manusia di lahirkan dan berakhir pada saat manusia meninggal dunia. Orang Barat menyebutnya “Long Life Education” (pendidikan seumur hidup). Orang yang menuntut ilmu akan diberikan pahala yang sangat besar, seperti sabda Rasullulah SAW  yang terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari sahabat Abu Hurairah yang artinya: “Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”
            Perintah menuntut ilmu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan” (HR. Ibnu Abdulbari). Dari hadist tersebut, kita memperoleh pengertian bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan, menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisis segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat. Atau baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup. Hal yang paling di harapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu. Maka dari pemaparan di atas, dapat simpulkan oleh penulis bahwa menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik, karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.
            Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu dianggap sangat penting. Alasannya, karena belajar dalam Islam bertujuan agar kita dapat ilmu untuk hidup di dunia dan memperoleh bekal untuk di akhirat. Hal-hal penting tentang ilmu yang harus kita pelajari nantinya akan berpengaruh dan Insya Allah dapat menjadi pegangan kita selama hidup di dunia yaitu dengan ilmu kita dapat mencari nafkah untuk kebutuhan hidup.
            Ilmu yang kita peroleh dapat disimbolkan sebagai bunga-bunga ibadah. Maksudnya, kita harus memahami untuk apa kita hidup di dunia ini. Allah menciptakan makhluknya hanya untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya. Jadi, semua hal di dunia yang telah dan akan kita lakukan, semua ditujukan hanya pada Allah. Cara-caranya adalah dengan senantiasa melakukan perbuatan baik. Apa itu perbuatan baik? Perbuatan baik yaitu semua pikiran, perkataan dan tingkah laku yang berniat baik, dan dilakukan dengan sikap-sikap terpuji untuk menciptakan kedamaian dan keindahan dalam hidup.
            Dengan ilmu yang baik akan mencerminkan akhlah mulia. Maksudnya, bahwa ilmu mengandung tatanan-tatanan yang sistematis dan mampu membentuk karakter seseorang. Seperti apa ilmu yang dimiliki seseorang maka seperti itulah kira-kira cerminan akhlaknya. Insan muslim yang berilmu pasti akan memperlihatkan bentuk tingkah laku dan perkataan yang dapat diterima oleh akal sehat dan mencerminkan kesopanan serta pribadi yang baik. Misalnya, dalam bersikap disiplin, rajin, ramah, sopan, penyayang, suka menolong. Hal-hal tersebut merupakan sikap seorang yang memiliki akhlak baik dan berilmu. Kita sebagai umat muslim harus senantiasa meningkatkan ilmu yang kita miliki dan mengembangkannya untuk masa depan. Dengan demikian, kaum muslim dapat memberi contoh akhlak yang baik bagi semua umat manusia di muka bumi ini.
            Ilmu merupakan cahaya kehidupan bagi umat manusia. Dengan ilmu, kehidupan di dunia terasa lebih indah, yang susah akan terasa mudah, yang kasar akan terasa lebih halus. Dalam menjalankan ibadah kepada Allah, harus dengan ilmu pula. Sebab beribadah tanpa didasarkan ilmu yang benar adalah sisa-sia belaka. Oleh karena itu, dengan mengamalkan ilmu di jalan Allah SWT merupakan ladang amal (pahala) dalam kehidupan dan dapat memudahkan seseorang untuk masuk ke dalam surga Allah SWT. Dia sangat mencintai orang-orang yang berilmu, sehingga orang yang berilmu yang didasarkan atas iman akan diangkat derajatnya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujadalah: 11).
            Kebahagian di dunia dan akhirat akan dapat diraih dengan syarat memiliki ilmu yang dimanfaatkan. Manfaat ilmu pengetahun bagi kehidupan manusia, antara lain: Pertama, ilmu merupakan cahaya kehidupan dalam kegelapan, yang akan membimbimg manusia kepada jalan yang benar. Kedua, orang yang berilmu dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya menjadi orang yang mulia beserta orang-orang yang beriman. Ketiga, ilmu dapat membantu manusia untuk meningkatkan taraf hidup menuju kesejahteraan, baik rohani maupun jasmani. Terakhir, keempat, ilmu merupakan alat untuk membuka rahasia alam, rahasia kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Hal yang dijelaskan di atas, diperkuat oleh hadits nabi, yakni: “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu” (HR. Thabrani).
            Di dalam menuntut ilmu, seseorang perlu menggunakan cara-cara yang efektif dan efisien sehingga setelah menuntut ilmunya nanti, ilmunya barokah, bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan masyarakat pada umumnya. Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh para penuntut ilmu, antara lain seperti: ikhlas karena Allah SWT, dalam keadaan suci, berakhlak mulia, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, meminta pertolongan Allah SWT, istiqomah, dan sabar.
            Akhirnya, penulis mengharapkan kita bersama untuk marilah kita senantiasa menuntut ilmu yang bermanfaat dan mengajarkan ilmu kepada orang lain sebagai sedekah. Moga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mendekatkan diri dalam beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. Amin, ya Robbal Alamin. ***